Tuesday, January 19, 2016

Beresin Laci Yuk..!!



Selama hamil anak ketiga, mulai dari awal sampai sekarang minggu ke-15 saya lebih seneng dirumah aja, ga ngerti kenapa saya yang tadinya doyan banget jalan-jalan kemana pun (yang penting keluar rumah), sekarang malah jadi 'mager' pisan euy! 

Ga rela waktu dibuang percuma, tangan mulai gatel karena ga ada kerjaan, kepikiran aja bikin project 'How to Organized' sekalian beberes rumah. Mulai dari yang kecil-kecilan seperti beresin laci kamar.

Laci berisi kabel dan asesoris gadget ini memang sudah seringkali bikin esmosi setiap mencari barang seperti earphone, memory card, atau usb. 

STEP 1 :
Kosongkan laci, susun kardus-kardus bekas yang sudah kosong dengan posisi sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi seluruh permukaan laci.

STEP 2 :
Ukur ketinggian laci, beri tanda dan potong kardus sesuai ukuran tersebut.

STEP 3 :
Lapisi kardus yang telah dipotong dengan kertas kado, atau kertas lain sesuai keinginan Anda.

FINISH!!
Yuppp!! Sekarang laci yang sebelumnya berantakan jadi jauh lebih rapih. Kita bisa meletakkan setiap barang sesuai kategori atau fungsinya masing-masing. Jadi akan lebih mudah bagi kita untuk menemukan barang yang sedang diperlukan.

Selamat Mencoba!! 

Belajar design interior rumah dengan www.floorplanner.com

Bagi saya, ada kepuasan tersendiri dalam beres-beres rumah atau bahkan mengatur ulang layout ruang tamu, kamar, dan bagian rumah lainnya.

Dulu seringkali saya gambar-gambar sendiri dan membayangkan bagaimana jadinya sebuah ruangan jika diatur ulang posisinya atau menambahkan furniture baru di dalamnya.

Tapi sekarang, setelah tahu ada www.floorplanner.com semua jadi lebih mudah dan praktis!
ga perlu lagi corat-coret sendiri, warna-warnain gambar, atau bengong-bengong bayangin layout yang cocok. (mungkin saya telat banget karena baru tau, tapi ga ada salahnya juga untuk sharing kan?)

Aplikasinya web-based, bisa dipakai secara online. Dan yang paling penting GRATIS!
untuk 1 account, bisa buat 1 judul layout design. Tools-nya juga mudah dipakai. Kalau bingung, ada tutorialnya dalam bentuk video. Saya pribadi sih ngantuk ya nontonnya, hehe.. maklum ibu hamil *excuse*, jadi ya learning by doing aja.

Dengan bermodal contoh-contoh gambar dari www.pinterest.com dan selera pribadi, kali ini saya coba membuat layout untuk rumah mungil pertama kami yang rencananya akan mulai di renovasi dan inshaAllah akan ditempati tahun 2017.

Layout bisa ditampilkan dalam bentuk 2D atau 3D. Warna dan ukuran furniture pun bisa dirubah sesuai selera atau ukuran aslinya.

Lantai bawah 2D

Lantai Bawah 3D

Lantai Atas 2D

Lantai Atas 3D

Lumayannn,, paling ga sekarang sudah kebayang apa aja yang harus dibeli dan bagaimana gambaran rumah impian kami nantinya. 

Sekarang tinggal suami pusing mikirin dana renovasi plus ngisi rumah yang sepertinya akan jauh di atas budget ;p

hehe,,, namanya juga rumah impian... kenyataannya nanti ya tinggal diatur aja prioritasnya. renovasi dan ngisi rumah kan bisa dilakukan bertahap ;)


Tuesday, December 8, 2015

Belajar Financial Planning di QM Financial



Semenjak hamil anak ketiga, saya jadi semakin sadar untuk lebih serius merencanakan keuangan keluarga. Apalagi sumber penghasilan kami satu-satunya adalah dari suami, sementara saya hanyalah ibu rumah tangga dengan bisnis online yang masih belum tentu penghasilannya.

Sebenarnya penghasilan suami sudah sangat lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tapi kok setiap akhir bulan masih saja kehabisan uang. Kartu kredit seringkali bablas hingga hanya mampu membayar minimum. Tabungan yang dulu terkumpul perlahan terkikis karena kebutuhan (dan keinginan). Bonus tahunan akhirnya digunakan untuk melunasi kartu kredit. Rencana liburan keluarga atau tabungan haji saja selalu tertunda karena kesulitan cash flow.


SOMETHING'S WRONG..!!!


Pasti ada yang salah, dan saya ga mau begini terus. Harus ada perubahan dan rencana yang terperinci dari setiap tujuan hidup kami. Saya ingin dapat memastikan kebutuhan dana pendidikan untuk anak-anak kelak dapat terpenuhi, bisa mempertahankan gaya hidup yang nyaman di masa pensiun nanti, dan tentunya bisa mencapai financial freedom dimana akhirnya uanglah yang bekerja keras untuk kami.

Teringatlah saya dengan QM Financial. Buku 'Untuk Indonesia yang Kuat' karangan Ligwina Hananto sudah lama saya hatamkan dan sering kembali saya baca ulang. Tapi entah kenapa sulit sekali untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Rencana tinggalah rencana, budget hanya tertulis namun selalu bablas, reksadana sempat terkumpul tapi akhirnya habis dicairkan kembali. 

Saat membuka timeline twitter @mrshananto ternyata ada event QMPC Express. Belajar membuat Plan Keuangan sendiri dalam 1 hari. Yeay!! Klo jodoh emang ga kemana ya, saat lagi butuh alhamdulillah pas ada event yang cocok dengan harga yang sesuai dengan kantong.

Hari Sabtu tanggal 5 Desember 2015 saya datang ke kantor QM di Ruko Grand Wijaya Jakarta Selatan. Total peserta 8 orang. Sesi pertama 'why we need financial planning' dibawakan oleh Ibu Ligwina Hananto dengan sangat apik, beliau bisa memaparkan pemikirannya dengan sangat luwes dan pembawaan yang kocak tentunya. Kita jadi semakin sadar mengenai pentingnya merencanakan keuangan demi tercapainya tujuan finansial. 1 hal yang seringkali disampaikan oleh beliau adalah 'Tujuan Lo Apa', tentukan dulu tujuan finansial kita, hitung berapa lama waktu pencapaian dan nilai valuasinya di masa depan, barulah tentukan rencananya.

Jadi misalnya tujuan finansial kita adalah biaya kuliah anak yang nilainya tahun ini 100jt. Waktu yang diperlukan sampai nanti anak masuk kuliah kurang lebih 15 tahun dengan nilai di masa mendatang (+inflasi 12%) sekitar 547Miliar!!. Mau nabung? Sok atuh 547M dibagi 15 tahun x 12 bulan = 3 jutaan per bulan, sanggup? Sementara klo kita investasikan di reksadana saham dengan nilai return 20% per tahun, maka kita hanya perlu menyisihkan 500rb-an per bulan selama 15 tahun.

Sesi kedua dibawakan oleh Pak Jerry mengenai 'Time Value of Money' dan penjelasan berbagai produk keuangan seperti obligasi, reksadana, saham, dll. Prinsipnya sama, mengingatkan kita bahwa nilai uang 100rb sekarang tentunya akan sangat berbeda dengan nilai uang 100rb di saat 10 tahun yang akan datang. Inget aja jaman dulu kita bisa jajan dengan uang 50 perak, sekarang 50 perak kayaknya hanya ada dalam cetakan struk belanja atau buku rekening.

Sesi ketiga dibawakan oleh Ibu Alemantis untuk belajar lebih rinci dalam menyusun rencana keuangan pribadi dan Financial Check Up. Yang bagian ini bener-bener bikin pusing tujuh keliling. Gimana nggak? semua seluk beluk keuangan kita dibahas habis dengan sangat terperinci. Mulai dari dana pendidikan anak, dana pensiun, dana darurat, sampai perintilan kebutuhan rumah tangga macam parfum aja harus dituliskan budget bulanannya. Ibarat menerima hasil medical check up, angka kolesterol atau gula darah yang keluar ga akan bisa bohong, semua itu adalah hasil nyata kondisi tubuh kita. Nah, Financial Check Up ini juga bisa sangat menggambarkan kondisi keuangan kita. Kemana aja larinya uang kita selama ini, sediiihhh banget lihat bagian spending jauh lebih banyak dibandingkan bagian saving dan investasi. Klo begini terus gimana nasib anak-anak nanti :((

QMPC Express 1 hari ini sangat singkat padat namun jelas dan bermanfaat. Saya jadi tahu bagaimana cara menghitung tujuan finansial pribadi, merencanakan keuangan keluarga, merencanakan investasi dan mengelola keuangan demi tercapainya tujuan-tujuan tersebut. Ilmu seperti ini tidak didapatkan di bangku sekolah, orang dengan penghasilan 4jt perbulan atau 100jt perbulan pun akan sama ujung nasibnya jika tidak melek finansial. Apalagi kita hidup di jaman sekarang ini yang penuh dengan gaya hidup konsumtif, kebutuhan tersier menjadi primer seperti pulsa handphone atau internet.

Walaupun sukses dibikin pusing, tapi saya sangat puas dan bersyukur bisa mengikuti training ini. Mata dan hati jadi terbuka lebar, sadar penuh akan tujuan-tujuan finansial yang harus mulai direncanakan dan dilaksanakan dari sekarang. Demi masa depan yang lebih cerah. 


Terima kasih QM Financial.

Wednesday, November 25, 2015

DILEMA IBU BEKERJA ATAU TIDAK BEKERJA

sebelum menikah, saya sangat bersemangat untuk meniti karir. sudah ada gambaran setiap tahapan karir apa yang harus saya kejar demi mencapai kesuksesan.

namun sejak menikah dan hamil anak pertama, entah kenapa prioritas saya jadi berubah. saya tidak lagi ingin meniti karir di kantor, saya hanya ingin fokus mengurus anak dan suami saja. menjadi stay at home mommy dan klo bisa tetap punya penghasilan dengan membuat sebuah usaha.

sebelum saya memutuskan untuk resign, saya diskusi dulu dengan suami. karena sebagai istri, tentu saja saya harus patuh pada suami dan bisa selalu mendapatkan restu darinya.
pertanyaan saya simple aja 
"kamu ingin sosok istri yang seperti apa?"
suami saya bilang, dia hanya ingin istri yang lebih banyak waktu dirumah, sudah dirumah saat suami pulang kerja, dan yang paling penting anak2 bisa terurus dengan baik.

menjelang melahirkan pun saya resign dari kantor. setelah melahirkan, ibu saya seringkali memaksa agar saya kembali bekerja. dengan alasan klasik supaya wanita tetap mandiri, tidak tergantung sama suami, amit2 klo ada apa2 misal (amit2) suami 'macem2' kita sebagai wanita tetap bisa mandiri.

sebenarnya alasan itu yang sangat tidak saya sukai. "agar klo suami 'macem2', kita ga susah"
menurut saya, semua tergantung niat awalnya, klo niat awal bekerja hanya untuk jaga2 akan kondisi 'itu' ya biasanya akan terjadi seperti itu.
niat saya untuk menjadi stay at home mommy tidak lain adalah untuk menjaga keutuhan rumah tangga dan mendidik anak dengan sebaik2nya. untuk urusan wanita yang mandiri secara financial, inshaAllah masih ada jalan lain selain bekerja kantoran, seperti usaha, investasi, dll.

mungkin bisa dimengerti kenapa ortu saya seperti itu, sebagai anak pertama dari 5 bersaudara saya sudah susah payah dibiayai sampai jenjang apoteker, maka tentu saja menjadi harapan besar orang tua agar saya bisa sukses dalam berkarir.

1-2 tahun kemudian masih saja wacana saya yang tidak bekerja selalu menjadi ganjalan di hati orang tua, saya pun kembali dilanda dilema antara patuh pada orang tua atau pada suami. 

sebenarnya suami tidak melarang saya untuk bekerja, tapi saya sendiri yang merasa tidak akan bisa maksimal di karir jika sudah punya anak. daripada setengah setengah, lebih baik saya fokus di keluarga. 

alhamdulillah seiring berjalannya waktu, karir suami saya makin cemerlang. bahkan jauh lebih sukses dibanding teman2 seangkatannya. saya yakin rezeki sudah diatur oleh Allah. saya selalu ingat kata2 mario teguh, rezeki sebuah keluarga itu ibarat bejana. jadi klo di satu sisi sedikit maka disisi lain akan lebih banyak dan bejana itu akan tetap penuh. 

suami seringkali berkata, mungkin dia bisa sukses di karir seperti sekarang karena saya full dirumah menjaga anak. jadi suami tidak perlu pusing akan urusan rumah yang ga ada ART, anak sakit, atau masalah rumah tangga lainnya. kami juga terhindar dari konflik akibat saya kelelahan bekerja atau harus pulang malam/bekerja saat weekend sehingga suami pun bisa lebih fokus berkarya di pekerjaannya.

Belakangan ini ortu saya juga sudah bisa lebih menerima keputusan yang saya ambil. bahkan seringkali bilang supaya saya fokus saja urus anak, masa kecil anak tidak akan terulang kembali. Alhamdulillah, akhirnya pikiran kami sudah lebih sejalan. 

Untuk ibu2 diluar sana yang masih dilema antara kembali bekerja atau full mengurus anak, diskusikan dulu baik2 dengan suami. Saya percaya setiap keluarga punya kondisi dan jalannya masing2. menjadi full time mommy atau working mommy sama saja hebatnya, asalkan semua didasari dengan niat yang mulia dan kesepakatan bersama suami. inshaAllah ada jalan. 

Monday, November 16, 2015

Perpanjang SIM di Samsat Gandaria City

Sudah 2 bulan terakhir SIM A saya habis masa berlakunya. Setelah browsing cari info ternyata bisa perpanjang di gerai Samsat terdekat. Dari posisi saya paling dekat ada di Gandaria City. 

Setelah browsing cari info, ada yang bilang harus nunggu sampai 4 jam, prosesnya lama, antrian panjang dan cerita horor lainnya.

Akhirnya saya pun berangkat jam 10 pagi dari rumah di daerah Pondok Indah, bermodalkan pulpen, fotokopi KTP, fotokopi SIM A, KTP asli, SIM A asli dan tentunya uang senilai Rp.150.000,-

pk.10.20 wib sampai di lokasi. Gerai Samsat Gandaria City berada di lantai 1. dekat lift yang ada di sebelah informa.


Melihat penuh seperti ini saya pun sudah bersiap menunggu lama. 

Saya masuk ke dalam, di meja dekat pintu saya menunjukkan sim dan ktp kemudian diberikan formulir perpanjangan sim untuk diisi. Terima kasih untuk blogger lain yang sudah menyarankan untuk bawa pulpen sendiri dan menyiapkan KTP dan SIM asli+fotokopi.

Adik ipar saya tidak bisa lanjut karena KTP-nya sudah tidak berlaku dan masih dalam proses perpanjangan. Klo pun mau, bisa datang kembali ke samsat dengan membawa surat keterangan dari kelurahan lengkap dengan stempel dan tanda tangan Lurah yang asli.

Setelah selesai diisi, saya serahkan kembali ke dalam. 

Baiklah, mari kita duduk dan main game atau browsing di Pinterest. 



Cek jam masih 10.35, belum selesai main 1 Game, tiba-tiba nama saya dipanggil. Saya pun masuk dan dipersilahkan duduk untuk foto. 




Petugas mengkonfirmasi nama, alamat saya dll, scan sidik 4 jari, 2 jari dan jari jempol, tanda tangan dan kemudian foto. Bayar 150rb dan langsung aja loh diberikan SIM A saya yang baru.





'Udah selesai nih mas?' | 'iya mba'
masih ga percaya cepet banget prosesnya, ga sampe 30 menit, rejeki ibu hamil solehah yaa kayaknya.

Sebenernya saya penasaran orang-orang lain yang rame antri dari sebelum saya datang itu nunggu apa, ngurus apa. kok saya yang baru datang sudah selesai saja. Tapi yasudahlah, mari kita pulang :))

INFO PENTING :
untuk perpanjangan SIM
1. KTP asli dan fotokopi yang masih berlaku
2. SIM asli dan fotokopi yang mau diperpanjang
3. Pulpen
4. Uang 150rb
5. Dandan ya, mau difoto kan :))

Segera perpanjang SIM yang sudah habis masa berlakunya, karena klo sudah lewat dari 3 bulan harus bikin baru lagi ke Daan Mogot.. Rempes kan yaaa klo udah begitu..