Thursday, February 24, 2011

Clinical Research Associate (CRA)

Clinical Research Associate (CRA), suatu jenis profesi yang tak pernah terlintas sebelumnya dalam benak saya sebagai Apoteker. Jujur saja, saya pun baru mengetahui profesi tsb saat hendak resign dari Medical Representative (MR) di sebuah PMA untuk menjadi Product Excecutive (PE) di PMDN lainnya.

Saat itu saya berada dalam persimpangan jalan untuk memilih jenjang karir berikutnya karena sejak masa kuliah saya sudah bertekad untuk meniti karir di bagian marketing farmasi. Setelah dipertimbangkan (mulai dari browsing, berdoa, hingga menelepon senior CRA untuk sekedar sharing), akhirnya saya memilih untuk menjalani profesi CRA.

Salah satu statement dari senior CRA yang mampu meyakinkan saya untuk memilih profesi CRA adalah "persaingan kerja yang lebih longgar dan jam kerja yang lebih sehat dibandingkan dengan berkarir di marketing".

Pada umumnya CRA bertanggung jawab untuk menjalani Clinical Trial (Phase I-IV). Namun di perusahaan tempat saya bekerja dulu, CRA masih bertugas untuk menjalani PMS (Post Marketing Surveillance-Phase IV) karena belum mendapatkan project Clinical Trial dari global. CRA bertugas untuk menyiapkan sebuah trial mulai dari protokol, Case Report Form (CRF), melaksanakan inisiasi pada dokter (investigator), mengumpulkan dan melakukan klarifikasi data. Namun semua itu tergantung pada kebijakan perusahaan tempat CRA bekerja.

Sungguh merupakan pengalaman yang sangat berharga ketika saya harus berhadapan dengan dokter sebagai CRA, karena benar apa yang dikatakan oleh senior CRA tsb bahwa kita sebagai apoteker dapat 'berkedudukan sejajar' dengan dokter atau bahkan profesor saat mendiskusikan tentang trial yang akan dijalankan.

Tantangan utama yang harus dihadapi dalam menjalani profesi CRA adalah sulitnya mendapatkan dokter/investigator yang benar-benar concern dengan pelaksanaan trial hingga mencatat lengkap data dalam CRF. Belum lagi anggapan awam bahwa trial obat akan menjadikan pasien sebagai kelinci percobaan, CRA harus mampu menjelaskan bahwa trial (khususnya PMS-Phase IV) merupakan studi dari obat yang sudah dinyatakan aman dan terdaftar di BPOM. Pasien pun berhak untuk mengetahui hak, kewajiban dan segala resiko saat menandatangani informed consent sebelum mengikuti trial serta memiliki hak untuk sewaktu-waktu mengundurkan diri walaupun masa studi belum berakhir.

Artikel ini saya posting untuk memperluas wawasan apoteker akan jenis lapangan kerja yang dapat 'digarap', jadi bukan sekedar Apotek, Rumah Sakit, Laboratorium, Institusi Pemerintah ataupun Pabrik Obat. Kita pun dapat bekerja sebagai CRA di perusahaan farmasi yang mengadakan trial. Berikut ini beberapa link yang berhubungan dengan CRA :

2 comments:

Anggie Hsb said...

makasih sher bantuannya selama ini, anggie cvm Medan...mampir yah?;p

sherly wijaya rusli said...

sama2 ya Anggie..
it was really nice to know u all Tim CVM Medan..
*jadi kangen pancake duren dan kepala ikan-nya :(

Post a Comment