Tuesday, May 31, 2011

NEW BORN, NEW LIFE



12 April 2011, a new little baby was born. He is my son, Genza Hadiwijaya Wahab

Dari 5 teman seperjuangan yang lebih dulu melahirkan dalam 1 bulan terakhir, 2 orang sukses melahirkan normal sesuai skenario, 2 orang melahirkan normal dengan bantuan induksi, 1 orang melahirkan caesar sesuai rencana. Dari mereka semua, aku banyak mendapatkan 'wejangan' yang mungkin cukup menjadi modal untuk dapat melahirkan normal.

Memasuki minggu ke 37, berbagai usaha pun ku lakukan untuk memancing kontraksi alami. Mulai dari senam hamil, makan durian (ini sih memang doyan), hingga 'kunjungan wisata' dari bapaknya (ini apalagi, udah doyan dari dulu). Namun kontraksi tak kunjung tiba, padahal berat bayi sudah mencapai 3.2kg di minggu ke 39. 

Sampai suatu pagi pk. 06.00, aku terbangun karena merasa ada cairan yang keluar. Segera ku bangunkan suami yang kemudian balik bertanya "memangnya ini jam berapa?". Maklum karena dekatnya jarak anatara kantor dan rumah, seringkali jam tidur diperpanjang hingga pk.07.30. "Ketubanku pecah.." mendengar itu, ia pun langsung beranjak dari tidurnya bagaikan vampir cina yang bangun dari peti-nya.

Sepanjang perjalanan, air ketuban mengalir tak terkontrol. Setelah sampai di RS pk. 06.30, bukaan baru seujung jari tanpa disertai kontraksi. Aku pun diberikan obat induksi sembari disuapi teh manis, bubur ayam dan roti oleh suami tercinta. Bukaan berlangsung cepat, hingga pk. 09.00 sudah bukaan 5 dan lengkap terbuka pada pk. 11.00.

"Sekarang tinggal ibunya nih, ayo dorong bu. Kakinya diangkat, tarik ke arah badan. Miring dulu supaya terasa lagi mulesnya". Sejuta anjuran terdengar berulang kali bagaikan ramainya hiruk pikuk di pasar bursa saham (kayak tau aja..). Berkali-kali aku coba mendorong, tapi entah kenapa nafas menjadi pendek dan aku tidak tahu caranya mengejan. "Rambutnya sudah kelihatan tuh, ayo bu.. dorong", semangat semakin membara dan aku berhasil pup di meja bersalin. Perjuanganku berlanjut hingga pk. 12.00 tanpa kemajuan yang berarti.

"Mau pakai vacum juga masih terlalu jauh, kuatir yang tertarik hanya kulit kepalanya saja". Kudengar dokter meminta persetujuan suami untuk mengambil tindakan caesar. Ingin rasanya aku berteriak dan memohon agar diberikan kesempatan untuk terus memperjuangkan kelahiran normal. Namun aku tak sanggup bersuara karena dikuasai rasa mules dan sakit yang teramat sangat. "Gpp syg, kasian dede-nya klo kelamaan" suara itu terdengar sayup mengiringi perjalananku ke ruang operasi. 

Rasanya legaaaaa sekali saat jarum anastesi menusuk ruas punggung ini. Rasa sakit dan mules yang hinggap selama 6 jam terkahir telah lenyap seketika, kini saatnya aku menjalani operasi caesar. Tak lama kemudian, terdengar suara tangis bayi yang memecah keheningan dalam benakku. Saat ia diletakkan untuk IMD (inisiasi menyusui dini), aku begitu terkesima akan hadirnya mahluk kecil tak berdaya yang selama ini berkembang dalam tubuhku.

Komplitnya proses melahirkan dari pecah ketuban, hebatnya sensasi induksi yang kemudian dilengkapi dengan operasi caesar ternyata tidak mampu menepis indahnya kebahagian saat aku mendekap tubuh mungil itu untuk menyusu. Bayi mungil ini begitu rapuh, lembut, dan membutuhkanku sepenuhnya untuk dapat bertahan hidup. Berakhir sudah 9 bulan yang penuh keajaiban dan aku pun menyandang gelar baru sebagai Ibu.

Welcome to the world my dear, i will always try to be the best mom you've ever had.

0 comments:

Post a Comment