Wednesday, November 25, 2015

DILEMA IBU BEKERJA ATAU TIDAK BEKERJA

sebelum menikah, saya sangat bersemangat untuk meniti karir. sudah ada gambaran setiap tahapan karir apa yang harus saya kejar demi mencapai kesuksesan.

namun sejak menikah dan hamil anak pertama, entah kenapa prioritas saya jadi berubah. saya tidak lagi ingin meniti karir di kantor, saya hanya ingin fokus mengurus anak dan suami saja. menjadi stay at home mommy dan klo bisa tetap punya penghasilan dengan membuat sebuah usaha.

sebelum saya memutuskan untuk resign, saya diskusi dulu dengan suami. karena sebagai istri, tentu saja saya harus patuh pada suami dan bisa selalu mendapatkan restu darinya.
pertanyaan saya simple aja 
"kamu ingin sosok istri yang seperti apa?"
suami saya bilang, dia hanya ingin istri yang lebih banyak waktu dirumah, sudah dirumah saat suami pulang kerja, dan yang paling penting anak2 bisa terurus dengan baik.

menjelang melahirkan pun saya resign dari kantor. setelah melahirkan, ibu saya seringkali memaksa agar saya kembali bekerja. dengan alasan klasik supaya wanita tetap mandiri, tidak tergantung sama suami, amit2 klo ada apa2 misal (amit2) suami 'macem2' kita sebagai wanita tetap bisa mandiri.

sebenarnya alasan itu yang sangat tidak saya sukai. "agar klo suami 'macem2', kita ga susah"
menurut saya, semua tergantung niat awalnya, klo niat awal bekerja hanya untuk jaga2 akan kondisi 'itu' ya biasanya akan terjadi seperti itu.
niat saya untuk menjadi stay at home mommy tidak lain adalah untuk menjaga keutuhan rumah tangga dan mendidik anak dengan sebaik2nya. untuk urusan wanita yang mandiri secara financial, inshaAllah masih ada jalan lain selain bekerja kantoran, seperti usaha, investasi, dll.

mungkin bisa dimengerti kenapa ortu saya seperti itu, sebagai anak pertama dari 5 bersaudara saya sudah susah payah dibiayai sampai jenjang apoteker, maka tentu saja menjadi harapan besar orang tua agar saya bisa sukses dalam berkarir.

1-2 tahun kemudian masih saja wacana saya yang tidak bekerja selalu menjadi ganjalan di hati orang tua, saya pun kembali dilanda dilema antara patuh pada orang tua atau pada suami. 

sebenarnya suami tidak melarang saya untuk bekerja, tapi saya sendiri yang merasa tidak akan bisa maksimal di karir jika sudah punya anak. daripada setengah setengah, lebih baik saya fokus di keluarga. 

alhamdulillah seiring berjalannya waktu, karir suami saya makin cemerlang. bahkan jauh lebih sukses dibanding teman2 seangkatannya. saya yakin rezeki sudah diatur oleh Allah. saya selalu ingat kata2 mario teguh, rezeki sebuah keluarga itu ibarat bejana. jadi klo di satu sisi sedikit maka disisi lain akan lebih banyak dan bejana itu akan tetap penuh. 

suami seringkali berkata, mungkin dia bisa sukses di karir seperti sekarang karena saya full dirumah menjaga anak. jadi suami tidak perlu pusing akan urusan rumah yang ga ada ART, anak sakit, atau masalah rumah tangga lainnya. kami juga terhindar dari konflik akibat saya kelelahan bekerja atau harus pulang malam/bekerja saat weekend sehingga suami pun bisa lebih fokus berkarya di pekerjaannya.

Belakangan ini ortu saya juga sudah bisa lebih menerima keputusan yang saya ambil. bahkan seringkali bilang supaya saya fokus saja urus anak, masa kecil anak tidak akan terulang kembali. Alhamdulillah, akhirnya pikiran kami sudah lebih sejalan. 

Untuk ibu2 diluar sana yang masih dilema antara kembali bekerja atau full mengurus anak, diskusikan dulu baik2 dengan suami. Saya percaya setiap keluarga punya kondisi dan jalannya masing2. menjadi full time mommy atau working mommy sama saja hebatnya, asalkan semua didasari dengan niat yang mulia dan kesepakatan bersama suami. inshaAllah ada jalan. 

0 comments:

Post a Comment